Ibuku jangan kau menangis lagi....
treng.........terdengar suara pecahan piring dari dalam rumah langkah demi langkah aku hampiri rumah, ku bukakan pintu kulihat didalam rumah terlihat ayah sedang memarahi ibu sambil membentak-bentak ibu, aku tidak sanggup untuk masuk kedalam rumah kuputuskan pada saat itu untuk pergi yang baru saja pulang dari sekolah.
kulihat sebuah gubuk kecil di dekat danau akupun menghampiri gubuk kecil itu, aku menenangkan diri disana sambil melihat air danau yang begitu tenangnya.
Andaikan suasana dirumahku setenang air danau ini aku akan selalu betah berada disana! tapi dalam kenyataannya kulihat rumahku seperti didalam neraka yang setiap harinya selalu ada keributan, yang setiap harinya dipenuhi dengan air mata ibuku.
aku anak pertama dari 2 bersaudara sekarang aku duduk di bangku SMA dan adiku masih duduk di bangku SD. Aku sebagai anak pertama harus menjadi seorang pemimpin aku harus membuat suasana keluargaku damai dan sejahtera .
hari semakin sore akupun belum pulang kerumah, pada saat itu aku tidak sanggup lagi melihat ibuku selalu menangis.
pada sore itu aku putuskan untuk pulang ke rumah, di depan rumah aku manatap rumahku dengan hati penuh dengan kegelisahan, ku bukakan pintu rumahku, ku hampiri kedalam rumah dikursi terlihat ibu sedang menangis di temani dengan adi saya.
"kamu darimanaja ko baru pulang?" tanya ibuku pada ku
aku tak menjawab karena aku tak kuasa melihat ibu menangis, akupun langsung pergi kekamarku tanpa menjawab pertanyaan dari ibuku. malam hari ku bukakan pintu kamar ibuku kulihat ibu masih belum tidur lalu aku menghampirinya, kutanya pada ibu ku mengapa ayah memarahi ibu lagi? dengan tanpa banyak bicara ibupun menjawab bahwa semua itu hanyalah kesalah pahaman antara ibu dengan nenek dan ayah memihak pada nenek.
pada saat itu akupun sangat kesal pada nenek kobisa2nya mengadudombakan antara ayah sama ibuku, apa salah ibuku didepan ayah kelihatan baik, dibalik itu semua hanyalah omong kosong belaka.
aku mengatakan pada ibuku jangan selalu mengalah kalau kita benar2 nggak salah ibu bilang aja sama ayah yang sebenarnya tentang nenek itu gimana. Dan ibu pun menyanggah omonganku bahwa kita tidak boleh berprilaku seperti itu kepada nenek, itu semua bukan solusi yang baik, biarmanapun juga itu tetap nenek kamu, itulah yang diucapkan ibu padaku.
Betapa sabarnya ibu menghadapi ini semua, akupun nggak tahan atas perlakuan nenek terhadap ibuku. Akupun berusaha untuk menjelaskan kepada ayahku atas kesalahpahaman itu, semua cara yang aku lakukan untuk meyakinkan bahwa itu hanyalah kesalahpahaman tetapi ayah tetap saja tidak percaya dan memihak pada nenek.
Aku sangat sedih melihat ayah dan ibuku yang selalu berseteru.
pada hari minggu saat sekolah libur yang biasanya orang habiskan untuk bermain, belanja dan yang lainnya, tapi aku habiskan untuk menemani ibuku.
Pada hari itu aku habiskan waktu untuk bercerita sama ibu, kenapa ibu sampai di benci oleh nenek? begitu tanyaku pada ibu, waktu dulu nenek tidak setuju dengan hubungan ibu sama ayahku, karena pada waktu dulu nenek ku sudah menjodohkan ayahku dengan seorang wanita yang lebih cantik dan kaya darinya, tapi ayahku begitu mencintai pada ibu hingga menikah dengan ibu, dan sampai saat ini ibu sudah punya dua orang anak dia masih tetap tidak setuju.
Pada waktu aku masih kecil bahkan ibu sama ayah sudah dilanda dengan yang namanya perceraian, tapi ibu tidak mau bercerai karena demi anak, lebih baik menderita ibu sendiri daripada anak yang nantinya menjadi korban. itulah ucapan ibuku.
Pada saat itu akupun langsung memeluk ibuku sambil meneteskan airmata.
"Aku bangga punya ibu seperti ibu, ibu rela menderita demi anakmu maafkan aku ibu yang selalu membuat ibu jengkel, marah bahkan kesal, sekali lagi maafkan anakmu, aku sayang banget sama ibu"! ucapku sambil menagis dipelukan ibu.
ibupun membelai aku dengan penuh kasih sayang sambil menasihatiku akan masa depan ku bahwa aku harus mendapatkan pasangan hidupku jangan hanya suami kita yang mencintai kita tapi buatlah orang tuanya dan keluarganyapun menyayangi kita agar tidak menderita seperti ibu. begitulah nasihat ibuku.
"trus apa yang akan ibu lakukan kedepannya, apakah ibu akan kuat menghadapinya semua ini?" tanyaku pada ibuku
"hanya dengan berdoa dan berpasrah diri kepada sang maha kuasa supaya kita diberi kesabaran, dan satu lagi jangan mengingatkan kejelekan mereka tapi kita selalu ingat akan kebaikannya maka dengan itu insya allah kita tidak akan dendam pada orang yang telah menyakiti kita!" ucap ibu.
Pada suatu ketika nenek ku jatuh sakit parah sampai mutah dan buang air kecilpun dikamarnya karena tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, dan tidak ada yang mengurusinya bahkan anak perempuannyapun tidak bisa mengurusi neneku yang jatuh sakit.
pada saat itu ibuku yang sedia mengurusi dan menemani neneku yang sedang sakit mulai dari memberi makan sampai memberinya obat itu semua ibuku yang melakukannya.
tatapan neneku melihat ibu rasanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi dengan kondsisi nenek yang tidak bisa bicara pada saat itu, hanya kulihat nenek meneteskan air mata melihat ibuku.
Hari demi hari nenek ku semakin pulih dari sakitnya, pada suatu saat nenek memanggil ibuku untuk berbicara, lalu ibupun menghampirinya selang beberapa saat lalu kulihat ibu sama nenek begitu akrak berbincang tidak seperti biasanya.
Malam hari aku mempertanyakan apa yang tadi siang dibicarakan antara ibu sama nenek, ternyata nenek meminta maaf pada ibu atas ketidak setujuannya selama ini, bukan hanya itu nenek juga berterimaksih pada ibu atas perhatiannya pada nenek sewaktu nenek sedang sakit dan nenek juga berkata bahwa dia beruntung mempunyai menantu seperti ibu, meskipun disakiti tapi tetap tidak membalasnya.
Lega sudah hati ini melihat nenek sama ibu bisa tersenyum dan tidak ada kebencian lagi diantara mereka.
kulihat rumahku semakin berseri tidak terdengar lagi suara pecahan piring, tidak ada lagi suara bentak2, tidak ku lihat lagi air mata yang menetes dari mata ibu.
yang kulihat sekarang senyuman dari ibuku, kulihat rumah seperti tenangnya air danau.
pikirku hanya dengan kesabaran dan berpasrah diri kita kepada sang maha kuasa, akhirnya bisa berakhir juga kepedihan ibuku ini, ayahpun semakin sayang kepada ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar